Agustus 8, 2008

Konflik Ossetia Selatan: Taruhan Kredibilitas Rusia

Konflik di Ossetia Selatan (OS) memuncak tanggal 7-8 Agustus 2008 ini. Tentara Georgia memasuki Tskhinvali, ibukota OS, dan menguasai sebagian besar wilayah OS yang berpenduduk sekitar 70 ribu jiwa. Presiden Mikhail Saakashvili menuduh Rusia melakukan agresi dengan mengirim 150 kendaraan tempur, khususnya tank dan kendaraan angkut personil, memasuki wilayah Georgia melalui Roki Tunnel, sementara pesawat-pesawat tempurnya membom wilayah Georgia. Presiden Dmitri Medvedev menegaskan pihaknya akan melakukan apapun untuk melindungi warga negaranya di manapun berada.

Peningkatan kekerasan di OS, apapun motivasinya, merupakan aksi yang telah disiapkan secara rapi. Aksi ini dilakukan di saat perhatian dunia tertuju di Beijing. Para pemimpin dunia, antara lain Presiden AS, Perancis dan PM Rusia berkumpul di sana untuk menghadiri pembukaan Olimpiade Musim Panas 2008.

Satu hal yang penting dicatat: ini adalah ujian bagi kredibilitas Rusia. Rusia telah banyak mengirimkan pesan terkait dengan konflik di Georgia. (Posting saya tanggal 25 Juli 2008 “Georgia: Pesan AS, Rusia”.)

Akankah Rusia memutuskan untuk menerima resiko apapun untuk menghadapi langsung pasukan Georgia di OS, yang notabene secara de jure berada di wilayah Georgia?

Agustus 8, 2008

Presiden Rusia: Putin, Medvedev

Mechel, produsen batubara Rusia melihat harga sahamnya anjlok 20% dan index pasar saham Rusia RTS turun  lebih dari 5%. Ini gara-gara pernyataan PM Vladimir Putin beberapa hari sebelumnya yang menuduh perusahaan ini tidak jujur dalam pembayaran pajak. Pasar saham di sanapun makin bergejolak karena sebelumnya persoalan yang dihadapi perusahaan minyak patungan TNK-BP telah memaksa CEO-nya meninggalkan Rusia. Para investor memilih posisi wait and see, memperhatikan dengan seksama perkembangan apa yang terjadi berikutnya.

Presiden Dmitri Medvedev berusaha menenangkan situasi dengan mengatakan bahwa pasar saham Rusia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Beberapa hari kemudian, Medvedev kembali berusaha membesarkan hati kalangan bisnis Rusia dengan menyeru kepada pejabat dan badan-badan pemerintah untuk “berhenti melecehkan dunia usaha (stop harassing businesses)”.

Apa yang menarik dari peristiwa di atas? Bahwa pemerintah Rusia menuduh sebuah perusahaan besar melakukan kejahatan pajak bukanlah hal baru. ‘Kejahatan perpajakan’ adalah dalil ampuh untuk melumpuhkan perusahaan besar yang dinilai tidak patuh terhadap keinginan penguasa. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Anti-Monopoli Federal (FAS) dan atau Kantor Pajak Federal (FNS) seringkali didasari oleh kepentingan politik penguasa. Putin, saat masih menjabat presiden,  memanfaatkan antara lain lembaga-lembaga ini untuk membulatkan seluruh kekuasaan di tangannya.

Di satu sisi, perusahaan dan pengusaha besar (dikenal dengan sebutan oligarch) tidak jarang menggunakan kekuatan finansialnya untuk menjadi partisan dalam politik sehari-hari. Partisipasi oligarch dalam politik ini tidak selalu seiring dengan kepentingan penguasa. Di sisi lain, Presiden Putin, waktu itu, ingin memanfaatkan kekuatan oligarch untuk melayani kepentingan politiknya. Artinya, mereka yang bersebarangan jalan adalah lawan politik yang perlu dibuat patuh. Perusahaan dan oligarch yang tidak patuh bisa diharapkan untuk segera menerima kunjungan pemeriksaan oleh agen-agen kantor tersebut.

Oleh karena itu, pernyataan Putin seperti di atas bukan sesuatu yang mengejutkan.

Namun bahwa Medvedev memberikan pernyataan yang pro-bisnis sekaligus ‘menghimbau’ pejabat dan badan-badan pemerintah untuk menjaga diri dan tidak mengganggu kalangan bisnis, ini menurut saya suatu hal yang menarik.

Serangan verbal Putin tentang Mechel dan pembelaan Medvedev terhadap kalangan bisnis memunculkan dugaan adanya ketidakharmonisan di balik hubungan Putin-Medvedev. Di sinilah letak daya tariknya karena Medvedev baru 3 bulan menduduki kursi kepresidenannya. Ia menjadi presiden karena ditunjuk oleh Putin (dan selanjutnya baru memenangkan pemilihan). Masa bulan madu telah usai?

Putin yang menduduki kursi kepresidenan sejak 1 Januari 2000 merupakan kunci di balik kemakmuran dan kebangkitan Rusia pasca Uni Soviet. Putin dinilai memiliki karakteristik sebagai pemimpin yang kuat dan efektif dalam mewujudkan visi dan misinya. Penilaian ini tidaklah berlebihan mengingat tantangan yang dihadapi oleh Putin saat mulai menjabat.

Tantangan pertama adalah kondisi obyektif Rusia: memiliki luas lebih dari 1,5 kali luas wilayah AS, berpenduduk lebih dari 140 juta jiwa, lebih dari 100 bahasa yang dipakai oleh beragam etnik di dalamnya, serta memiliki 11 zona waktu. Artinya, rentang kendali yang dihadapi seorang pemimpin Rusia sangatlah panjang. Diperlukan tangan yang kuat untuk memegang kendali ini agar kehidupan berbangsa dan bernegaranya selalu terjaga.

Putin juga menghadapi tantangan berupa kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan akibat krisis keuangan dan ekonomi yang bermula di Asia. Pada tahun 1999, misalnya, meskipun Rusia menikmati surplus dari penjualan minyaknya sebesar US$ 29 milyar, namun rata-rata inflasi juga meningkat hingga 86%. PDB bahkan turun 45% dibanding tahun 1991, gaji rata-rata turun 30%, sedangkan uang pensiun rata-rata turun 45%.

Dengan kondisi seperti itu, peran Rusia di panggung internasional merosot tajam. Salah satu kekuatannya yang tersisa adalah di bidang kemiliteran, khususnya ribuan hulu ledak nuklir yang masih tersimpan. Namun itupun tidak bisa dibandingkan dengan kekuatannya di era Uni Soviet dulu, apalagi dibandingkan dengan kekuatan AS. Semuanya itu sudah aus termakan usia. Pemerintah Rusia tidak mampu membiayai riset dan modernisasi persenjataan strategisnya itu.

Kepresidenan Medvedev diawali dengan kondisi yang jauh lebih baik. Saat ini pemerintah Rusia memiliki cadangan devisa lebih dari US$ 130 milyar. Rusia juga memiliki banyak milyarder, sekedar untuk menggambarkan secara sederhana kemakmuran rakyatnya saat ini. (Posting saya tanggal 2 Agustus 2008 “Rusia: Kemakmuran, Kemacetan, dan Ojek”.)

Persoalannya, Medvedev dianggap hanya sebagai boneka Putin. Kepresidenannya dinilai lebih sebagai hasil penunjukan oleh Putin, meski ia kemudian memenangkan pemilihan dengan sekitar 70% suara. Faktor Putin dalam kemenangannya di pemilihan presiden bulan Maret 2008 sangat besar karena Putin adalah presiden yang sangat populer dengan dukungan lebih dari 70%. Oleh karenanya, di luar negeri, dipilihnya Medvedev sebagai presiden oleh Putin dinilai capres Barrack Obama sebagai sebuah cara agar Putin dapat terus berkuasa, sedangkan capres John McCain menilai Putin (dengan cara itu) telah membuat dirinya sendiri sebagai presiden seumur hidup. Di dalam negeri, sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa 36% responden menilai Putin berada di balik keputusan-keputusan penting yang dibuat Presiden Medvedev dan hanya 9% yang percaya Medvedev benar-benar in charge.

Tampaknya saat ini Medvedev ingin membuktikan kepresidenannya.

Langkah yang sangat tidak mudah. Ia adalah pemimpin Rusia pertama yang tidak pernah terlibat dalam struktur kekuasaan komunis Uni Soviet—dibanding Putin yang mantan agen dinas rahasia KGB. Artinya, Medvedev tidak cukup mengakar di tubuh lembaga-lembaga pemerintah Rusia, khususnya yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kekuasaan, seperti badan-badan intelijen dan kemiliteran.

Meski Medvedev mempunyai kemiripan dengan Putin, yaitu berjiwa patriotik dan bervisi presiden harus memiliki posisi yang kuat vis a vis rakyatnya, namun berbeda dengan Putin, Medvedev cenderung memilih pendekatan yang lebih terbuka bagi kompetisi dalam dunia bisnis dan luwes dalam hubungan internasional.

Tantangan terbesar yang dihadapi Medvedev untuk menjadi ‘presiden yang sesungguhnya’ adalah bahwa ia tidak memiliki dukungan kekuatan politik yang kuat untuk mengendalikan dan memimpin ‘beruang’ Rusia.

Agustus 2, 2008

Rusia: Kemakmuran, Kemacetan, dan Ojek

Sebuah cerita menarik di sebuah surat kabar Rusia, The Moscow Times, baru-baru ini mengenai moto-taxi atau jenis angkutan penumpang umum menggunakan sepeda motor. Kita mengenalnya dengan sebutan: ojek. Ini fenomena baru di sana, belum populer, tapi mulai banyak peminat. Konon di Moskow sudah ada dua perusahaan ojek ini, sepeda motor biasa dan skuter. Di kota St. Peterburg juga sudah ada 2 perusahaan jasa serupa.

Moskow, layaknya kota metropolitan lain di dunia, seperti Jakarta, menghadapi masalah kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Bayangkan, pada awal tahun 2007 jumlah mobil di Moskow sudah melebihi angka 3 juta. Sementara rata-rata penduduk di ibu kota negara-negara Eropa Timur, seperti Praha (Ceko) dan Warsawa (Polandia—memiliki jumlah penduduk terbesar di Eropa Timur—minus Rusia) tidak sampai 3 juta, bahkan kurang dari 2 juta. Jumlah penduduk kota Moskow sekitar 10 juta orang dengan luas wilayah sekitar 1000 km2.

Kepadatan lalu lintas tersebut antara lain mencerminkan tingkat kemakmuran warga Moskow, dan warga Rusia pada umumnya. Rusia memang sedang bangkit dari keterpurukannya menyusul runtuhnya Uni Soviet akhir 1980an dan krisis keuangan tahun 1997. Selama masa Kepresidenan Vladimir Putin, pertumbuhan ekonomi Rusia rata-rata mencapai angka 7%. Menurut perkiraan CIA, pada tahun 2007 PDB per kapita di Rusia mencapai lebih dari US$ 14 ribu.

Minyak dan gas merupakan penopang utama perekonomian Rusia. Negara-negara Eropa sangat menggantungkan energinya kepada pasokan migas dari Rusia. Ekspor peralatan militer juga menjadi sumber pendapatan yang tidak kecil. Negara-negara berkembang merupakan konsumen utamanya.

Pada awal tahun 2001, majalah Forbes mencatat 8 milyarder Rusia yang memasuki daftar orang terkaya di dunia. Empat orang sudah tercatat dalam daftar tahun sebelumnya, empat orang merupakan pendatang baru. Namun urutan tertinggi mereka baru pada peringkat 194 di Forbes. Mikhail Khodorkovsky adalah urutan teratas daftar orang terkaya di Rusia saat itu. Ia merupakan eksekutif puncak perusahaan minyak Yukos dan saat ini sedang menjalani hukuman penjara 9 tahun (putusan pengadilan pada akhir Mei 2005) karena penipuan pajak.

Dalam periode 7 tahun kemudian, pertumbuhan milyarder di Rusia sangat luar biasa. Majalah Forbes edisi Mei 2008 mencatat 7 orang milyarder Rusia di antara 25 orang terkaya di dunia. Kali ini Oleg Deripaska menduduki tempat yang teratas dari jajaran milyarder Rusia—atau nomor 9 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Usianya baru 40 tahun, kekayaan Deripaska yang dicatat Forbes senilai US$28 milyar. Bisnis utama Deripaska adalah aluminium (UCRusal) namun ia juga memiliki pabrik pembuat mobil (GAZ), pembuat pesawat terbang (Aviacor) serta perusahaan asuransi (Ingosstrakh).

Nama Roman Abramovich barangkali lebih akrab di telinga kita. Nama ini menjadi terkenal ketika pada tahun 2003 membeli klub sepakbola Chelsea asal Inggris. Abramovich, saat ini berusia 42 tahun, adalah orang terkaya ke-dua di Rusia atau nomor 15 dalam jajaran orang terkaya di dunia. Kekayaannya ditaksir senilai US$ 23,5 milyar dengan bisnis utamanya di sektor minyak.

Menurut majalah Rusia Finans, Rusia saat ini memiliki 101 milyarder sehingga membuatnya sebagai negara dengan jumlah milyarder terbanyak ke-dua di dunia setelah AS.

74 di antara 101 milyarder Rusia tersebut saat ini tinggal di kota Moskow dengan kekayaan bersih rata-rata US$ 5,9 milyar. New York sebagai kiblatnya keuangan dunia ‘hanya’ menjadi rumah bagi 71 milyarder dengan kekayaan bersih rata-rata US$ 3,3 milyar. Tidak aneh kalo lembaga survey Mercel menobatkan Moskow sebagai kota termahal di dunia untuk orang asing yang tinggal dan bekerja di sana (expatriate). Kota termahal berikutnya adalah Tokyo dan London. Sementara kota New York yang menjadi patokan dari pengukuran tingkat kemahalan ini berada di urutan ke-22.

Pada tingkat orang kebanyakan, kemakmuran penduduk di Rusia bisa kita lihat melalui indikator sederhana berupa kepemiliikan mobil. Penjualan mobil di seluruh Rusia pada enam bulan pertama tahun 2008 mencapai kenaikan 41%. Dengan asumsi kemakmuran penduduk Moskow yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Rusia, maka saya menduga sebagian terbesar dari penjualan mobil itu terjadi di Moskow.

Bisa dibayangkan, meski jalan-jalan di kota Moskow super lebar, namun tetap saja kepadatan kendaraan yang luar biasa selalu terjadi. Sulit membayangkan? Coba tengok betapa padatnya kendaraan di salah satu jalan protokol di kota Moskow seperti di bawah:

Padahal moda transportasi umum di Moskow cukup bervariasi. Kereta bawah tanah, atau dikenal dengan nama Metro, merupakan pilihan yang banyak dipakai. Mulai beroperasi tahun 1931, dewasa ini kereta bawah tanah di Moskow setiap harinya mengangkut tidak kurang dari 7 juta pengguna. Dengan 12 lini dan jaringan yang cukup intensif menjangkau sudut-sudut kota, Metro tidak mampu mengurangi kepadatan lalu lintas di Moskow.

Kepadatan kendaraan di jalan dan perilaku pengemudi yang cenderung ugal-ugalan di Rusia telah menyebabkan tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Tahun lalu lebih dari 30 ribu orang meninggal akibat kecelakaan di jalan-jalan di seantero Rusia. Menurut Presiden Dmitri Medvedev, lebih dari separuh dari jumlah korban itu meninggal sebelum sampai di rumah sakit karena terhambatnya laju ambulan oleh kemacetan. Sungguh mengenaskan.

Sampai begitu parahkah kemacetan lalu lintasnya? Survey yang ditulis tahun 2007 oleh lembaga Yandex menyebutkan bahwa pada tahun 2006 terjadi kemacetan di Moskow sebanyak 650 kali per hari. Setiap kali kemacetan, 1500 kendaraan terhenti selama kurang lebih 1 jam. Rata-rata pengendara di Moskow terjebak kemacetan selama 11 jam setiap bulannya.

Itulah sebabnya muncul kendaraan angkutan umum ojek ini. Ojek mampu menembus kemacetan. Dari pusat kota Moskow ke bandara Sheremetyevo dapat ditempuh dalam waktu 30-40 menit, sedangkan kalau menggunakan mobil membutuhkan waktu paling cepat 1,5 jam.

Yang menarik, peminat jenis angkutan ini lebih banyak wanita muda daripada lelaki. Lelaki katanya merasa kurang nyaman jika dibonceng sepeda motor. Asyik. Namun ojek di sana juga melayani jasa pengantaran. Lagi-lagi karena alasan efisiensi.

Namun berbeda dengan di Jakarta, ojek di Moskow dikoordinir dalam sebuah organisasi usaha atau perusahaan. Pengendara—yang di depan dan di belakang—juga harus menggunakan alat-alat pengaman seperti helm dan sarung tangan yang memenuhi standar keamanan. Mereka sepenuhnya mematuhi peraturan lalu lintas, begitu menurut artikel tersebut.

Patut dicatat dari fenomena di atas bahwa kemakmuran membawa akibat-akibat sosial, seperti kemacetan lalu lintas yang memunculkan moda transportasi baru. Kuncinya adalah: Peraturan dan kepatuhan. Peraturan yang dibuat, ditegakkan dan dipatuhi semata-mata untuk kebaikan bersama. Keselamatan, kenyamanan, dan tercapainya tempat tujuan bagi semua pengguna jalan. Saya menyadari, itu semua adalah tatanan ideal. Tapi boleh kan bermimipi sesuatu yang ideal? Mudah-mudahan yang ideal itu bisa didekati di negeri ini kita tercinta.

Foto: Dolboeb Anton Nossik di www.englishrussia.com