Agustus 18, 2008...1:23 pm

Krisis Georgia: Media, Propaganda

Lompat ke Komentar

“Kami [AS] masuk ke Somalia karena media, dan kami keluar karena media.”

Pernyataan di atas disampaikan oleh seorang pejabat pemerintahan AS mengenai intervensi militer AS di negeri Afrika itu.

Pada awal tahun 1990an, liputan CNN mengenai tragedi kemanusiaan di Somalia—kelaparan dan perang sipil—merasuki rumah-rumah keluarga di Amerika. Intensitas penyiaran berita yang begitu tinggi menarik perhatian para pembuat keputusan di sana. Akhirnya mereka memutuskan melakukan intervensi militer guna membantu mengakhiri tragedi kemanusiaan dimaksud.

Namun, melalui CNN pula rakyat dan politisi AS menyaksikan tragedi yang lain. Tubuh seorang tentara AS yang menjadi korban konflik diseret di jalanan kota Mozambique Mogadishu, ibukota Somalia. Akibat tayangan tersebut, tentara AS segera ditarik keluar tanpa membuat banyak perubahan.

Apa makna cerita di atas? Bahwa media memainkan peran penting dalam sebuah proses pembuatan keputusan, termasuk dalam hubungan antar negara. Media menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lain. Pesan yang disampaikan secara terus-menerus akan membentuk sebuah opini tentang sebuah fakta yang multidimensi. Disengaja atau tidak, pesan yang disampaikan tidak selalu menyajikan seluruh dimensi yang terkait. Sementara itu, opini yang terbentuk berpotensi menjadi faktor pendorong lahirnya sebuah keputusan.

Mari kita tengok krisis yang berlangsung di Georgia. Di berbagai media barat, laporan yang disampaikan kepada publik lebih banyak menonjolkan faktor kemanusiaan dan legalitas aksi militer Rusia. Berita disertai foto dan gambar hidup tentang orang tua, wanita dan anak-anak serta gedung-gedung bukan target militer yang menjadi korban serangan Rusia disampaikan secara terus-menerus. Selain itu juga kata-kata ‘kedaulatan wilayah’, ‘agresi’, dan ‘aksi brutal’ sering dipakai untuk menggambarkan dan atau menganalisa situasi yang terjadi. Kata-kata dan gambaran tersebut ditujukan kepada Rusia. Maka tak sulit menerka bahwa opini yang terbangun kemudian adalah sosok Rusia yang mengerikan, membunuh orang tak berdosa, menghancurkan kehidupan masyarakat kebanyakan, serta melanggar hukum-hukum internasional.

Apakah gambaran itu salah? Bahwa aksi militer Rusia di Georgia telah menyebabkan jatuhnya korban sipil, hancurnya gedung perumahan dan sekolah, adalah fakta tak terbantahkan. Bahwa Rusia telah melanggar hukum internasional dengan mengirimkan tank dan pasukannya ke wilayah Georgia adalah juga fakta yang tak terbantahkan.

Persoalannya tidak segampang itu untuk memahami secara memadai peristiwa yang terjadi. Apalagi untuk membuat sebuah penilaian. Mengapa? Karena fakta di atas hanya merujuk sisi tertentu dari sebuah fenomena yang kompleks. Salah satu contoh sisi yang kurang mendapat perhatian adalah bahwa Georgia tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab munculnya krisis. Di manapun di muka bumi ini tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan seorang presiden yang membom rakyatnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Presiden Mikhail Saakashvili terhadap penduduk di Tskhinvali. Rusia bukanlah satu-satunya pihak dalam krisis di sana yang harus menerima hukuman.

Menarik untuk dicatat bahwa dalam perkembangannya, justru Saakashvili banyak mendapat simpati dari masyarakat internasional. Sebaliknya Rusia yang membalas tindakan Saakashvili mendapat banyak kecaman.

Tunggu dulu! Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membela siapapun. Ini sekedar mencatat sebuah fenomena pentingnya peran media dalam krisis di Georgia.

Mungkin sejak menyadari kekeliruannya menghitung skala balasan dari Rusia, sejak menyaksikan tentaranya dengan mudah dipukul mundur oleh tentara Rusia, Saakashvili banyak tampil di depan media. Tentu dengan penuh kesadaran ia tampil secara live hampir tiap hari di media Barat seperti CNN dan BBC yang memiliki jaringan mendunia. Dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar, Saakashvili memilih menggunakan kata-kata keras untuk menuduh, mengutuk, mengecam, aksi militer Rusia yang memasuki wilayah Georgia.

Dalam perjalanan waktu, tampak bahwa dengan propagandanya, Saakashvili mampu membangun simpati dunia. Ia menjadi newsmaker, meyakinkan khalayak dunia tentang bagaimana negaranya yang kecil menjadi sasaran keganasan raksasa Rusia. Ia menekankan perbandingan yang tidak seimbang antara kekuatan negaranya dengan Rusia. Untuk memperkuat argumentasinya, Saakashvili berusaha memberikan gambaran mengenai profil/karakteristik Rusia yang sesuai dengan tuduhannya. Tidak cukup menunjukkan foto dan gambar hidup tentang kehancuran yang menurutnya akibat serangan tentara Rusia, Saakashvili berusaha mengingatkan dunia tentang masa lalu Rusia (Uni Soviet) sebagai penjajah yang keji.

Dengan caranya itu, Saakashvili menutupi kesalahannya.

Propaganda Saakashvili memiliki dampak yang cukup kuat antara lain karena didukung penuh oleh para petinggi AS. Mulai dari Presiden George Bush, Menlu Condoleezza Rice, hingga Menhan Robert Gates, tak kalah garang dalam mengecam hingga mengancam Rusia setiap harinya.

Tanpa ada aksi penyeimbang yang memadai dari pihak Rusia, propaganda Saakashvili dan para pendukungnya di AS menjadi sangat efektif. Propaganda itu pada akhirnya di benak banyak orang menjadi seakan-akan sebuah kebenaran satu-satunya. Saat itulah simpati mengalir ke Saakashvili dan Georgia. Sebaliknya Rusia menuai kecaman dari banyak pihak.

Sesungguhnya Rusia bukannya tidak memberikan propaganda sama sekali. Presiden Dmitri Medvedev menuduh Georgia melakukan pembunuhan masal (genocide) dan pembersihan etnik (ethnic cleansing). Oleh karena itu, Sakaashvili harus dituntut sebagai penjahat perang di hadapan Pengadilan Penjahat Perang Internasional (International War Crime Tribunal).

Menlu Sergei Lavrov juga beberapa kali memberikan pernyataan, namun tidak ada tanggapan mengenai tuduhan atau kecaman yang ditujukan kepada Rusia. Apalagi serangan (verbal) balik.

Sikap Rusia yang nyantai ini mungkin disebabkan oleh (kembalinya) rasa percaya diri setelah keberhasilan aksi militernya di Georgia. Langkahnya di sana tidak mendapat perlawanan yang berarti. Para pendukung Georgia, yaitu AS, NATO, Eropa, tidak ada yang mengirimkan bantuan militer. Kecaman dan ancaman selama ini hanya sebatas kata-kata. Tidak ada yang berwujud tindakan nyata. Tidak ada tekanan yang dihadapi langsung oleh tentara Rusia di lapangan.

Pada dasarnya memang telah disepakati bahwa tujuan Rusia di Georgia telah tercapai. Rusia ingin menegaskan bahwa kawasan Kaukasus dan sekitarnya merupakan wilayah pengaruhnya (sphere of influence). Rusia juga ingin menunjukkan bahwa saat ini ia memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan utama dunia lain. Tak kalah pentingnya adalah pesan Rusia bahwa dukungan dan garansi keamanan AS dan NATO tidaklah berarti segala-galanya. Krisis di Georgia membuktikan para pendukung Georgia itu tidak mampu berbuat banyak untuk membantu.

Bagi Georgia, tentu akan sangat berarti jika AS dan NATO membantu Georgia sejak awal, setidaknya memberikan masukan penilaian mengenai situasi di lapangan serta kemungkinan reaksi balasan dari Rusia. Atau bahkan mengirimkan bantuan militer pada saat terjadinya konflik.

Tujuan yang lain tapi sifatnya kurang strategis dan hanya sekedar pesan kepada masyarakat internasional adalah menunjukkan sifat kemunafikan AS. Seruan AS kepada Rusia untuk menghormati kedaulatan negara lain, tidak turut campur dalam urusan dalam negeri negara lain, mengecam kebrutalan militer Rusia karena jatuhnya korban sipil, jelas bertentangan dengan yang dilakukan AS pada saat yang bersamaan.

Namun sekali lagi hal-hal yang ingin disampaikan Rusia tenggelam oleh propaganda Georgia dan AS yang membanjiri media.

Terjadinya ketidakseimbangan ini, atau barangkali bisa disebut sebagai kelemahan, atau bahkan kekalahan, propaganda Rusia, antara lain adalah karena sikap Rusia sendiri yang membatasi diri terhadap media, utamanya media Barat. Pemerintah Rusia memang memegang kontrol cukup kuat terhadap pemberitaan media nasionalnya. Namun langkah itu tidak memiliki arti sama sekali jika berhadapan dengan kebutuhan untuk mempengaruhi opini masyarakat internasional. Apalagi kebutuhan itu menghadapi persaingan yang sangat ketat dari media Barat.

Kita maklum media Barat memiliki kekuatan yang dahsyat. Banyak media nasional di negara-negara lain, termasuk di Indonesia, yang menggantungkan sumber pemberitaannya dari media Barat ini.

Rusia telah mengalahkan tentara Georgia secara telak di bumi Georgia. AS dan NATO tidak mampu membantu Georgia secara militer. Ini sebuah kenyataan sejarah. Yang terjadi selanjutnya adalah pembuatan keputusan-keputusan politik untuk menyesuaikan dengan kenyataan sejarah yang baru terwujud. Keputusan politik banyak dipengaruhi oleh berita-berita di media. Rusia bisa jadi harus membayar mahal kemenangan militernya tersebut dengan berbagai konsekuensi akibat kekalahan propagandanya.

Tinggalkan Balasan