Hari Jumat lalu tanggal 8 Agustus 2008, sejumlah pemimpin dunia bersama-sama dengan ribuan orang di Beijing, dan bahkan di seantero dunia melalui televisi, menyaksikan pesta pembukaan Olimpiade Musim Panas 2008 yang spektakuler. Di hari yang sama malam sebelumnya, di Tbilisi Presiden Mikhail Saakashvili memerintahkan tentara Georgia mengambil alih kontrol atas Tskhinvali, ibukota propinsi Ossetia Selatan (OS) yang ingin melepaskan diri dari Georgia.
Tentara Georgia pun menembakkan roket dan artileri berat ke kota Tskhinvali. Saakasvhili beralasan bahwa aksi militernya terukur dan merupakan balasan terhadap serangan sporadis yang dilancarkan kelompok separatis OS. Kelompok separatis ini telah melakukan serangan ke wilayah-wilayah Georgia di sekitar OS, termasuk terhadap tentara Georgia yang bertugas di sekitar wilayah konflik. Beberapa bulan terakhir ini memang kekerasan di sana meningkat. Upaya mediasi Jerman tidak berhasil meredam peningkatan kekerasan tersebut.
Namun serangan tentara Georgia akhir minggu lalu itu menewaskan sejumlah tentara penjaga perdamaian asal Rusia di OS dan sejumlah lainnya terluka. Rusia pun membalas dengan aksi militer berskala penuh yang masih berlangsung hingga hari ini.
Beberapa hal yang menjadi catatan saya dari peristiwa di atas adalah sebagai berikut.
Pemilihan waktu operasi militer tampaknya dirancang sedemikian rupa bersamaan dengan upacara pembukaan Olimpiade Musim Panas 2008 di Beijing. Saat itu seluruh perhatian dunia tercurah ke sana. Namun apa sesungguhnya keuntungan dari pemilihan waktu tersebut? Mencuri perhatian dunia di sela semarak olimpiade? Alasan ini tentu sulit dipahami. Menyimak perkembangan yang terjadi, tampaknya masalah waktu itu hanya merupakan kebetulan. Kebetulan bersamaan dengan pesta olah raga dunia di Beijing.
Bahkan para analis dan komentator juga masih belum sepakat mengenai motivasi Saakashvili melancarkan serangan militer ke Tskhinvali. Dengan 127 penasehat militer AS berada di sekeliling Saakashvili, sulit untuk memahami ia tidak dapat memprediksi aksi balasan Rusia terhadap keputusannya menyerang Tskhinvali. Terlebih dengan bantuan kecanggihan militer AS, bahkan Saakashvili seharusnya juga dapat memonitor dengan presisi yang tinggi setiap pergerakan militer Rusia, termasuk intent Moskow terhadap Georgia.
Rusia juga telah memberikan pesan yang sangat jelas dan gamblang melalui latihan militer Caucasus 2008 yang merupakan tandingan dari latihan militer bersama yang diadakan oleh Georgia dan AS berkode Immediate Response bulan Juli 2008 lalu. (Posting saya tanggal 25 juli 2008 “Georgia: Pesan AS, Rusia”.)
Saat ini bisa dikatakan Rusia dalam situasi dipojokkan. Ia gerah dan geram. Segala protes dan keberatannya atas manuver-manuver militer yang dilakukan AS dan sekutu-sekutunya di Eropa tidak pernah digubris.
Rusia sangat marah atas pengakuan negara-negara Barat terhadap proklamasi kemerdekaan Kosovo. Presiden (waktu itu) Vladimir Putin menegaskan bahwa kasus Kosovo memberikan preseden bagi wilayah-wilayah lain yang ingin memerdekakan diri di kawasan bekas Uni Soviet. Yang dimaksud Putin adalah OS dan Abkhazia, dua propinsi di Georgia yang ingin melepaskan diri.
Selama ini Rusia telah memberikan bantuan ekonomi dan bahkan pasokan senjata serta perlengkapan militer lain kepada pemerintah de facto di kedua daerah tersebut. Rusia bahkan telah memberikan kewarganegaraan terhadap sebagian terbesar populasi di sana. Selanjutnya, Rusia akan semakin gencar memberikan bantuannya.
Sebelumnya, Rusia telah dibuat marah dengan tingginya antusiasme Saakashvili membawa Georgia ke dalam pelukan NATO dan Uni Eropa (UE). Saakashvili yang sangat pro-AS telah menjadikan Georgia sebagai sekutu terdekat AS paling timur di Eropa. Untuk menunjukkan loyalitasnya kepada AS tersebut, Georgia mengirimkan 2000 tentaranya ke Irak. Ini menjadikan Georgia sebagai negara dengan jumlah tentara terbanyak ke-3 di Irak setelah AS dan Inggris. Saat ini 2000 tentara Georgia yang bertugas di Irak ditarik pulang dengan bantuan AS untuk memperkuat barisan menghadapi gempuran Rusia.
Dengan aksi balasan Rusia berskala seperti itu, yang sepertinya di luar perkiraan, apakah ini berarti Saakashvili telah melakukan kesalahan perhitungan? Bisa jadi. Operasi militer Georgia mengambil alih kontrol Tskhinvali yang menewaskan 15 tentara penjaga perdamaian Rusia adalah tabuhan genderang perang di telinga para pemimpin Rusia. Rusia juga menuduh serangan itu telah menewaskan 2000 penduduk sipil yang kebanyakan berwarga negara Rusia. Maka Presiden Dmitri Medvedev pun menyatakan bahwa Rusia tidak akan membiarkan pihak yang bertanggung-jawab atas insiden itu berlalu tanpa mendapat hukuman.
PM Vladimir Putin segera meninggalkan Beijing menuju Vladkavkaz, kota di selatan Rusia dekat perbatasan dengan Georgia yang menjadi salah satu pijakan pergerakan militer Rusia ke Georgia. Meski langkah PM Putin ini memotong kewenangan Presiden Medvedev sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata Rusia, hal ini tetap saja menunjukkan keseriusan Rusia menghadapi masalah ini. Putin tegas menyatakan bahwa serangan Georgia terhadap tentara Rusia di OS menjadikan klaim Georgia atas OS tidak berlaku lagi. Menurutnya, sulit bagi Rusia menarik kembali tentaranya dari wilayah konflik tersebut.
Balasan yang decisive dari Rusia seolah pedang bermata dua. Bagi Georgia, ini dijadikan peluang untuk menarik simpati dunia atas kesewenang-wenangan negara besar (Rusia) atas negara kecil (Georgia). Saakashvili ‘memanfaatkan’ tragedi yang terjadi untuk menunjukkan bahwa Rusia sekarang tidak beda dengan Uni Soviet dulu yang suka sewenang-wenang mengirim tank ke negara tetangganya untuk menumpas gerakan perlawanan. Dengan kata lain, Rusia adalah ancaman keamanan yang sangat serius dan Georgia saat ini menjadi korbannya. Jika Georgia menjadi korban, maka negara lain akan bisa menjadi korban selanjutnya. Salah satu opsi penyelesaiannya adalah keanggotaan NATO secepat-cepatnya.
Dalam KTT NATO bulan April 2008 lalu di Bucharest, dua negara utama Eropa, Perancis dan Jerman, tidak ingin buru-buru menerima keanggotaan Georgia. Alasannya adalah karena mempertimbangkan keberatan Rusia. Sementara itu, salah satu syarat keanggotaan NATO adalah calon anggota tidak boleh menghadapi persoalan kewilayahan. Georgia harus menyelesaikan persoalan kemilayahannya itu, salah satunya adalah OS—yang lainnya adalah Abkhazia.
Tampaknya Saakashvili ingin agar Georgia dapat diterima menjadi anggota NATO dalam masa pemerintahan Presiden George W. Bush di AS. Jika dalam masa kepresidenan Bush ini tidak berhasil, Saakashvili tampaknya menilai aplikasi keanggotaan NATO untuk Georgia akan tertunda-tunda. Barangkali ia memperkirakan presiden baru AS nantinya akan menempatkan masalah keanggotaan Georgia di NATO bukan sebagai prioritas dalam agendanya.
Saakashvili juga bermaksud menginternasionalisasi persoalan separatisme yang dihadapinya berharap tekanan masyarakat internasional, khususnya dukungan negara-negara NATO dan UE terhadap aspirasinya, dapat menghentikan atau setidaknya mengendalikan campur tangan Rusia.
Namun agaknya harapan tersebut tidak akan terwujud. Setidaknya sampai tulisan ini saya publikasikan, yang terjadi justru Rusia memperluas serangannya ke wilayah-wilayah di luar wilayah OS. Front pertempuran telah meluas meliputi pula Abkhazia. Rusia bahkan diberitakan telah berhasil menduduki kota Gory yang terletak sedikit di luar wilayah konflik OS. Gory secara geografis bernilai strategis dan menjadi pijakan pasukan Georgia menghadapi konflik di OS.
Ke mana NATO dan AS? Seperti telah saya sebutkan di atas, Perancis dan Jerman tidak ingin bermusuhan dengan Rusia. Salah satu alasannya adalah masalah energi. Suka atau tidak, kenyataannya sampai saat ini Eropa masih sangat tergantung pada pasokan migas dari Rusia. Sementara itu, saat ini AS tidak memiliki kemampuan untuk berhadapan dengan Rusia di Georgia. Prioritas AS saat ini adalah Irak dan Afghanistan. Ketika keamanan di Irak sudah semakin membaik, tentara AS semakin banyak berguguran di medan perang Afghanistan.
Masih terkait dengan Irak, prioritas AS lainnya adalah Iran. Faktor Iran adalah penting bagi stabilitas di Irak. Tidak cukup dengan keamanan di Irak, AS juga harus menghadapi masalah nuklir Iran. Untuk menghadapi Iran, AS membutuhkan Rusia. Rusia memiliki kedekatan hubungan dengan Iran antara lain karena Rusia membantu pembangunan proyek nuklir di Iran. Pendek kata, AS telah memiliki ‘piring yang terisi penuh’ untuk disantapnya dan memerlukan kerjasama dengan Rusia untuk menyelesaikan (sebagian) prioritasnya.
Bagi Rusia, konflik di OS menjadi sebuah ujian atas kredibilitasnya. Mampukah Rusia menunjukkan bahwa ia pantas menjadi kekuatan tingkat global seperti yang diinginkannya? Satu aspek telah mendapat pengakuan. Dalam waktu beberapa jam setelah Tskhinvali dikuasai pasukan Georgia, Rusia mampu memobilisir pasukannya dari berbagai unit untuk menerobos masuk perbatasan dan selanjutnya memukul mundur tentara Georgia dari ibukota OS tersebut. Itu berarti rantai komando berjalan mulus dan logistik peralatan serta kendaraan tempur siap operasi. Termasuk dalam hal ini adalah kesiapan pesawat-pesawat tempurnya. Kenyataan ini telah mengubur keraguan beberapa pihak mengenai kondisi unit-unit dan mesin-mesin tempur Rusia di tengah keterbatasan anggarannya.
Rusia juga masih harus membuktikan sejauh mana mampu menghadapi tekanan internasional vis a vis rencananya dalam operasinya di Georgia ini. Sejauh mana tentara Rusia akan bergerak? Apa yang ingin dicapainya? Saat ini semua negara di kawasan ini, utamanya negara-negara bekas Uni Soviet, memperhatikan dengan seksama dan dengan rasa cemas aksi militer Rusia di Georgia. Akankah sejarah berulang ketika negara-negara tersebut diduduki dan dijadikan satelit untuk semata-mata melayani kepentingan Moskow?
Rusia harus membuktikan kredibilitasnya: sejauh mana ia bisa menjadi kekuatan global yang predictable dan bertanggung jawab.
1 Komentar
Agustus 13, 2008 pukul 3:37 am
Ini merupakan titik awal dari pertempuran besar yang akan terjadi di masa akan datang. Terlalu banyak benturan kepentingan di geopolitik dunia saat ini. Terlalu banyak percikan perang yang dimulai dari afghanistan, irak, libanon, taiwan vs cina, korut vs korsel, dan yang terbaru adalah konflik diatas. PBB sebagai perantara konflik tidak bisa menjalankan perannya. NATO hanya mengikuti negara sponsornya, OKI dan Liga Arab tunduk dibawah tekanan politik dan ekonomi USA. Namun, ibarat balon yang terus ditiup, suatu saat akan pecah dan melayang kemana-mana. Apa akar permasalahannya. Arogansi USA yang didalangi Zionis.