Juli 29, 2008...8:39 pm

Rusia: Kerjasama Keamanan Baru di Eropa

Lompat ke Komentar

Rusia mengajukan usul kerjasama keamanan baru di Eropa kepada negara-negara NATO hari Senin (28/7) di Brussel. Kerjasama baru itu memberi peluang bagi masuknya negara-negara di luar benua Eropa dan Amerika untuk berpartisipasi—khususnya China dan India. Ini tentu sangat berbeda dengan kerjasama keamanan di Eropa yang telah ada selama ini, yaitu Organisasi Kerjasama Keamanan Eropa (OSCE) dan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Rusia adalah anggota OSCE, tapi tidak anggota NATO.

Mengapa Rusia merasa perlu mengajukan usul ini? Mari kita tengok beberapa peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Menlu AS Condoleeza Rice menandatangani persetujuan kerjasama dengan Menlu Ceko Karel Schwarzenberg di Praha (8/7) mengenai rencana penempatan radar X-Band milik AS di wilayah Ceko. Radar ini merupakan bagian dari sistem pertahanan anti-misil balistik (ballistic missile defense/BMD) milik AS di Eropa. AS beralasan system tersebut untuk menangkis serangan misil balistik dari Iran ke AS atau sekutu AS di Eropa. Tapi lokasi penempatan radar dimaksud sangat dekat dengan wilayah Rusia sehingga Rusia menentang kerjasama tersebut.

Dalam kunjungannya ke Moskow (21-22/7), Presiden Venezuela Hugo Chavez diberitakan membelanjakan sekitar US$ 2 milyar untuk membeli berbagai peralatan perang, seperti jet tempur Ilyushin, kapal selam tenaga diesel, system pertahanan udara Tor-M1 dan kemungkinan juga sejumlah tank. Presiden Chavez bukan sekali ini berbelanja peralatan perang ke Rusia. Dan Venezuela merupakan salah satu pelanggan terbaik produk peralatan perang Rusia.

Minggu lalu tersiar pula berita bahwa Rusia berencana membangun sebuah pangkalan militer di Kuba untuk pesawat-pesawat pembom strategis Tu-160 Balckjack dan Tu-95MS Bear. Militer Rusia sesungguhnya telah meninggalkan Kuba pada awal tahun 2002 setelah menutup stasiun radarnya yang telah beroperasi sekitar 40 tahun. Keputusan Presiden Valdimir Putin menutup pos militer Rusia yang terbesar di luar negeri tersebut merupakan buah membaiknya hubungan AS-Rusia waktu itu.

Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan saya. Usul kerjasama baru keamanan di Eropa mencerminkan hasrat Rusia untuk terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan mengenai masalah-masalah keamanan internasional, khususnya di Eropa. Rusia memiliki alasan yang cukup kuat untuk mendorong hasratnya ini. Stabilitas politik dan ekonomi serta berkah dari harga minyak yang tinggi sekitar dua dekade terakhir telah memberikan kemakmuran serta peluang bagi Rusia untuk memperkuat kembali militernya.

Rusia sekarang ingin memainkan kembali peran globalnya, setidaknya sebagaimana dimainkan dulu oleh Uni Soviet. Rusia merasa tatanan yang ada sekarang tidak cukup mengakomodasi aspirasinya itu. Ia tidak cukup dilibatkan dalam masalah-masalah internasional, khususnya masalah yang berdimensi keamanan di Eropa. Atau lebih tepatnya, kepentingan-kepentingan Rusia seringkali diabaikan oleh AS dan sekutu NATO-nya di Eropa.

Sebagai contoh, seperti disebut di atas, Rusia memprotes rencana penempatan BMD AS di wilayah Ceko. Rusia berdalih bahwa mengingat lokasinya, instalasi radar tersebut dapat diarahkan ke Rusia. AS menolak keberatan Rusia tersebut dan kukuh menjalankan rencananya. Sebagai pelengkap dari instalasi radarnya di Ceko, saat ini AS sedang merundingkan rencana penempatan peluru kendali (rudal) penyergap (interceptor) misil balistik di wilayah Polandia.

Rusia juga sejak awal mengecam program perluasan keanggotaan NATO karena mengancam keamanan nasionalnya. Namun NATO juga menolak keberatan yang disampaikan Rusia dan terus melanjutkan program perluasan keanggotaannya.

Hingga saat ini, NATO yang didirikan pada than 1949, telah mengalami perluasan keanggotaan sebanyak 5 kali, yaitu tahun 1952, 1982, 1990, 1999, dan 2004. Target perluasan keanggotaan NATO adalah negara-negara bekas Pakta Warsawa yang terletak di sekitar Rusia. Negara-negara ex-Pakta Warsawa yang telah menjadi anggota baru NATO adalah Polandia, Bulgaria, Romania, Ceko, Slovakia, Lithuania, Estonia, Latvia, dan Hungaria. Sementara itu, Ukraina dan Georgia akan bergabung di kemudian hari.

Perluasan keanggotaan NATO tersebut membuat seolah-olah musuh makin mendekati wilayah Rusia. Masuknya negara-negara anggota baru tersebut menempatkan Rusia berhadapan dengan ‘musuh’ langsung di garis perbatasan wilayahnya.

Logika ini sangat beralasan karena NATO adalah organisasi pakta militer, meskipun merupakan warisan era Perang Dingin yang telah lewat. Sebagai sebuah pakta militer, organisasi ini ditujukan untuk mengalahkan atau menghancurkan musuh. Pada masanya, NATO dibentuk untuk menghancurkan Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Saat ini Pakta Warsawa sudah tidak ada lagi, namun NATO tidak mengalami perubahan yang mendasar. Uni Soviet pun, sebagai target sasaran, tidak lagi ada. Rusia adalah pewarisnya.

Usaha untuk membongkar pola pikir lama dan membangun tata keamanan baru bukannya tidak dilakukan. Diundangnya Rusia sebagai peninjau dalam tubuh NATO merupakan salah satu contoh. Bukankah ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang dulunya bermusuhan saat ini telah dapat duduk bersama di dalam organisasi yang tadinya digunakan sebagai mesin pemusnahnya? Ini adalah langkah penting dalam membangun rasa saling percaya, mengurangi kecurigaan di antara pihak-pihak yang dulunya bermusuhan.

Karenanya, seperti kata pepatah “Jika tidak dapat mengalahkan lawan, maka bersekutulah—if you cannot beat them, join them”, Rusia mengajak bersekutu dengan ‘lawan-lawannya’ tersebut, dengan syarat-syarat tertentu.

Kerjasama yang diusulkan tentu tidak mengarah pada pembentukan sebuah pakta militer baru. Mengapa? Karena kalau dibentuk pakta baru, kepada siapa pakta ini ditujukan? Oleh karenanya, pembentukan pakta militer baru tidaklah relevan.

Meskipun Rusia menginginkan peran global, harus diakui kemampuan yang dimilikinya belum sebanding dengan yang dimiliki AS, misalnya kemampuan untuk melakukan tindakan unilateral, khususnya aksi militer. AS mampu melakukan itu, sebuah tindakan bahkan yang tidak didukung oleh mandat PBB sekalipun. Invasi AS ke Irak adalah salah satu contoh gamblang.

Mampu dalam hal ini tidak saja dalam arti pembiayaan, peralatan militer, teknologi perang, dan sebagainya, namun termasuk kemampuan dalam menghadapi tentangan dari negara-negara yang tidak setuju. Tidak ada negara lain di dunia ini yang memiliki kemampuan itu dalam menggelar operasi militer secara unilateral sebagaimana dilakukan oleh AS.

Memahami hal ini, Rusia berusaha membawa persoalan keamanan internasional sedapat mungkin masuk dalam kisi-kisi format kerjasama multilateral. Karenanya, kerangka kerjasama baru yang diusulkan bersifat lebih terbuka terhadap anggota dari berbagai kontinen. (Hal seperti ini—banyaknya negara yang terlibat— sudah memunculkan pertanyaan terhadap efektifitas kerjasamanya.)

Kerjasama baru yang diusulkan Rusia tampaknya juga mengarah pada upaya mengurangi peran sentral NATO dan OSCE di Eropa. Atau bahkan membuat institusi-institusi kerjasama keamanan tersebut menjadi tidak relevan lagi. Jika benar demikian, maka usul tersebut mengandung perubahan yang fundamental karena OSCE dan NATO merupakan pilar keamanan, stabilitas, dan kemakmuran Eropa selama bertahun-tahun.

Rusia sepenuhnya menyadari hal ini. Negara-negara NATO kemungkinan tidak akan menyambutnya dengan antusias, apalagi menanggapinya secara positif. Sebagai tahap awal, Rusia hanya mengharapkan adanya ‘diskusi’ terhadap tatanan kerjasama pertahanan baru di Eropa.

Sementara itu, penjualan senjata besar-besaran ke Venezuela dan khabar burung mengenai rencana pembangunan pangkalan pengisian bahan bakar bagi pesawat pembom strategis Rusia di Kuba bisa jadi merupakan pesan penting mengenai kerjasama keamanan yang ingin disampaikan oleh Rusia. Mengapa demikian? Venezuela dan Kuba terletak di ‘halaman rumah’ AS. Rusia ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa melakukan apa yang dilakukan AS terhadapnya. Rusia ingin mengatakan bahwa ia masih memiliki pilihan lain jika urusan kerjasama keamanan baru tidak bisa dilakukan ‘secara baik-baik’. Dengan kata lain, Venezuela dan Kuba dijadikan bahan tawar oleh Rusia untuk sebuah pengaturan keamanan baru di Eropa yang harus melibatkan Rusia.

Jadi, kemungkinannya saat ini Rusia melakukan dua pendekatan sekaligus: berusaha merangkul Eropa dan AS membentuk kerjasama pertahanan baru di Eropa serta sekaligus menempatkan dasar-dasar bagi pergerakan mesin perangnya persis di seberang perbatasan AS. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi jika bersekutu pun tidak memungkinkan lagi. Artinya dunia akan kembali ke era Perang Dingin?

Peta: NATO (www.nato.int)

Tinggalkan Balasan