Juli 24, 2008...8:55 pm

KARADZIC: Serbia, Rusia dan Barat

Lompat ke Komentar

Radovan Karadzic ditangkap oleh petugas keamanan Serbia pada hari Senin tanggal 21 Juli 2008 lalu. Sebelum ditangkap, ia telah bersembunyi selama 13 tahun. Karadzic ditangkap di Beograd, ibukota Serbia, di dalam sebuah bis angkutan umum. Berita penangkapan ini cukup menggemparkan karena Karadzic adalah buronan besar yang dijuluki ‘Penjagal Eropa’ pada masa setelah usainya Perang Dunia II ini. Siapakah sesungguhnya Karadzic?

Radovan Karadzic adalah seorang psikiatris yang terjun ke dunia politik setelah runtuhnya rejim sosialis Yugoslavia pada akhir dekade 1980an. Saat itu negara Yugoslavia terpecah-belah. Karadzic ingin menyatukan Serbia-Bosnia dengan Serbia yang letaknya bertetangga. Melalui Serbian Democratic Party, Karadzic, dibantu oleh panglima perangnya, Radko Mladic, memimpin etnik Serbia memerangi etnik Croatia dan Bosnia yang tidak menghendaki dominasi etnik Serbia. Perang berlangsung selama 3 tahun (1992-1995) dan diakhiri dengan Perjanjian Dayton. Akibat perang tersebut, sekitar 200 ribu orang terbunuh dan 1 juta orang tergusur dari tempat tinggalnya. Sebagian terbesar dari korban itu adalah etnik Bosnia dan non-Serbia lainnya. Karena perbuatannya, Karadzic dituduh telah melakukan pembunuhan masal (genocide) dan pembersihan etnik (ethnic cleansing).

Apa signifikansi penangkapan Karadzic tersebut? Tentu terdapat beberapa, tergantung pada sudut pandangnya. Salah satunya adalah bahwa penangkapan itu menegaskan orientasi pemerintahan baru Serbia ke Barat lebih ketimbang ke Rusia.

Serbia adalah salah satu republik bagian yang membentuk negara Yugoslavia, anggota Pakta Warsawa. Ia merupakan sekutu terdekat Rusia di wilayah Balkan. Sementara itu, Rusia, sejak dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin, mengalami perbaikan tingkat kemakmuran serta stabilitas politik dan ekonomi yang cukup berarti. Momentum tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk mengembalikan kejayaan Rusia yang telah dipermalukan akibat keruntuhan Uni Soviet. Berpalingnya negara-negara bekas Pakta Warsawa dan Uni Soviet ke Barat, bekas musuh utamanya di era Perang Dingin, tentu sangat tidak diinginkan oleh Rusia. Bukankah itu hanya menceritakan bahwa Barat lebih menarik dibandingkan dengan Rusia bagi negara-negara tersebut? Padahal dulu Uni Soviet (pendahulu Rusia) adalah penjamin kemakmuran dan keamanan mereka.

Terus, mengapa negara-negara ini berpaling? Jawaban singkatnya tentu karena ada tawaran yang lebih baik yang mereka terima. Barat menawarkan kemakmuran dan keamanan melalui Uni Eropa (UE) dan NATO. Kerjasama antar negara ujung-ujungnya adalah kemampuan menyediakan ‘makan cukup dan tidur nyenyak’. Dengan kata lain: kemakmuran dan keamanan. Barat menawarkan sistem politik dan ekonomi yang lebih bebas dan predictable. Individu diberikan kesempatan untuk berkembang secara lebih leluasa di segala bidang, termasuk memenuhi kesenangan materialnya. Kemakmuran negara-negara Barat secara gamblang dapat dilihat untuk dijadikan contoh hidup. Untuk mencapai itu, Barat menawarkan paket-paket bantuan ekonomi dalam jumlah dan kualitas yang lebih dari lumayan—meski itu semua memiliki harga yang harus dibayar. Tidak ada makan siang yang gratis.

Rusia, di sisi lain, meski ekonominya sedang booming, namun belum sampai pada tingkatan kemampuan yang menyamai kekuatan ekonomi Barat dalam memberikan bantuan kemakmuran.

Bagi Rusia, kenyataan bahwa Serbia sangat serius untuk lebih dekat dengan Barat merupakan tamparan yang kesekian kali. Sebelumnya, Kosovo yang memerdekakan diri dari Serbia sudah cukup untuk membuat Rusia KO mengakui kekalahan diplomasinya. Terpilihnya Mirko Cvetkovic pada tanggal 7 Juli 2008 lalu sebagai Perdana Menteri Serbia yang baru adalah tamparan berikutnya. Cvetkovic adalah politisi yang beraspirasi membawa Serbia ke Barat–dan ia  dipilih oleh rakyat Serbia dalam pemilu yang demokratis. Penangkapan Karadzic terjadi tidak lama setelah terbentuknya pemerintahan baru Serbia. Karenanya peristiwa ini menggarisbawahi komitmen pemerintahan baru tersebut untuk bergabung dengan Barat.

Uni Eropa sendiri telah memberikan iming-iming berupa keanggotaan UE kepada Serbia. Syaratnya, Serbia harus menyerahkan penjahat perang Karadzic untuk diadili di Pengadilan Kejahatan Internasional (International Criminal Court/ICC) yang berkedudukan di Den Haag. Masih satu buron lagi yang ditunggu, yaitu Ratko Mladic. Tentu bukan hanya ini syarat yang harus dipenuhi Serbia. Namun dipenuhinya syarat ini merupakan poin yang sangat berarti bagi diterimanya Serbia ke dalam UE.

Apakah pilihan yang dimiliki Rusia saat ini? Selama ini Rusia menghukum negara sekitarnya yang mbalelo dengan hukuman ekonomi, seperti penghentian pasokan minyak. Sebagai contoh, Ukraina dan Georgia mendapati minyaknya dari Rusia tak mengalir ketika Viktor Yushchenko dan Mikheil Saakashvili memenangkan pertarungan politik di Ukraina akhir tahun 2004 (dikenal dengan Revolusi Oranye) dan di Georgia akhir tahun 2003 (dikenal dengan Revolusi Mawar). Lithuania menerima hukuman serupa ketika sentimen anti-Rusia meningkat di sana awal tahun 2008 ini. Ceko juga sempat mengalami penghentian pasokan dari Rusia karena menandatangani perjanjian dengan AS untuk menempatkan instalasi radar AS di wilayahnya beberapa waktu lalu.

Hukuman yang dilakukan oleh Rusia tersebut tidaklah efektif dalam jangka panjang untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Bahkan pada akhirnya justru akan membuat kredibilitas Rusia sebagai pemasok energy dipertanyakan oleh konsumennya. Rusia yang kemakmurannya saat ini ditopang oleh hasil jualan minyak, tentu tidak ingin komoditi andalannya itu tidak diinginkan oleh konsumen gara-gara reputasinya sebagai pemasok tidak diakui.

Karena yang dituju negara-negara itu adalah ‘makan cukup dan tidur nyenyak’, maka ke sanalah Rusia harus membangun daya tawarnya jika ingin memenangkan persaingan. Menawarkan insentif yang bersaing. Bukan dengan jalan menakut-nakuti karena justru itu yang dijauhi pesaingnya dan tidak dimaui oleh calon ‘pelanggannya’.

Tinggalkan Balasan