Agustus 27, 2008

Georgia: Rusia, Barat, Tata Dunia Baru

Hari Senin kemarin tanggal 25 Agustus 2008, Majelis Tinggi (Dewan Federasi) dan Majelis Rendah (Duma) Parlemen Rusia secara aklamasi mengakui kemerdekaan dua propinsi di Georgia yang ingin melepaskan diri, Republik Ossetia Selatan (OS) dan Abkhazia.

Sehari kemudian, Presiden Dmitri Medvedev mengumumkan telah menandatangani pengakuan resmi Rusia atas kemerdekaan dua wilayah tersebut. Medvedev kemudian mengundang wartawan raksasa media Barat, termasuk CNN dan BBC, ke area peristirahatan kepresidenan di kota Sochi untuk wawancara. Tampaknya Rusia ingin memperbaiki aspect public relations yang selama ini diakui kalah jauh dari yang dilakukan Georgia. Aspek PR ini sangat penting untuk menyampaikan pesan yang dikehendaki serta mempengaruhi opini publik agar menguntungkan pihak yang memberi pesan. (Posting saya tanggal 18 Agustus 2008, “Krisis Georgia: Media, Propaganda”.) Moskow selama ini dibantu oleh perusahaan PR Belgia Gplus, sedangkan Tbilisi dibantu oleh perusahaan AS Aspect Consulting.

Bagi kebanyakan rakyat OS, pengakuan kemerdekaan oleh Rusia sangat dinantikan. Sudah 2 kali referendum diadakan, yaitu tahun 1992 dan 2006, yang menunjukkan keinginan rakyat OS untuk merdeka. Rusia mendukung hasil-hasil referendum tersebut namun tidak pernah memberikan pengakuan resmi.

Kemerdekaan bagi mereka berarti ‘bebas dari Georgia’. Rakyat OS yang secara etnik berbeda dengan Georgia merasa selama ini selalu dilecehkan. Bahkan kebanyakan mereka memimpikan dapat bersatu dengan Ossetia Utara yang berada di seberang perbatasan, bagian dari Rusia. Kenangan mereka sebagai sebuah bangsa yang makmur dalam bingkai Kerajaan Alania tak jarang hadir di benak mereka.

Pengakuan yang diberikan Rusia sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Mengapa? Tentu karena para petinggi Rusia telah berjanji akan memberikannya. Terakhir, Menlu Sergei Lavrov secara tegas mengatakan bahwa saat ini tidak mungkin lagi membicarakan OS dan Abkhazia sebagai bagian dari negara Georgia. Artinya, saat itu Rusia telah memutuskan nasib kedua wilayah tersebut. Posisi Rusia di meja perundingan juga telah jelas, Rusia akan menolak segala dokumen menyangkut krisis di Georgia jika masih memberi rujukan kepada  ‘keutuhan wilayah Georgia’.

Pengakuan Rusia tersebut dikutuk oleh Eropa dan AS. Sejauh ini baru Belarus yang juga telah mengakui kemerdekaan OS dan Abkhazia.

Sejumlah hal menarik untuk dicatat. Dengan pengakuan tersebut tampaknya Rusia telah lama siap dengan berbagai skenario di atas meja. Pengakuan terhadap OS dan Abkhazia itu sendiri merupakan konsekuensi logis dari invasi militer Rusia ke Georgia tanggal 8 Agustus 2008 lalu. Akan sulit dipahami jika Rusia kemudian tidak menindaklanjuti invasi tersebut dengan memberikan pengakuan kemerdekaan terhadap dua wilayah tersebut. Tanpa memberikan pengakuan, Rusia akan memberikan sinyal yang membingungkan mengenai motivasinya. Rusia akan dianggap tidak serius, main-main, dan akhirnya kehilangan kredibilitas. Kredibilitas di mata negara-negara yang di mata Rusia merupakan sphere of influence-nya, yaitu negara-negara Eropa Timur, Baltik dan Asia Tengah. Rusia juga akan kehilangan kredibilitas di mata rivalnya, yaitu Eropa dan AS yang saat ini sedang giat-gitanya melebarkan sayap pengaruhnya persis di wilayah yang diingini Rusia.

Perkembangan di Georgia 3 minggu terakhir ini menunjukkan kesiapan dan keteguhan Rusia melakukan apapun yang diperlukan untuk mengamankan kepentingan strategisnya, terutama di kawasan yang sangat dekat dengan posisinya. Rusia tegas mengatakan ia memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Kemampuan itu sudah dibuktikan.

Penting pula dicatat bahwa Rusia saat ini sangat kukuh melawan segala pendapat Barat. Rusia seperti tidak ambil pusing dengan segala macam kecaman dan ancaman Barat—yang memang sejauh ini masih bersifat retorika, tidak ada aksi di lapangan.

Ini memunculkan pertanyaan: apa sesungguhnya yang sedang terjadi?

George Friedman memberikan sudut pandang yang menarik untuk memahami situasi ini. Menurutnya, konflik di Georgia sama sekali bukan masalah OS, atau Abkhazia, atau bahkan tentang Georgia. Ini adalah konflik antara Rusia dan Barat. Konflik di Georgia bukan tergolong konflik besar namun telah melahirkan tata dunia baru.

Pemicu keputusan-keputusan yang dibuat oleh Rusia adalah deklarasi kemerdekaan Kosovo. Segera setelah deklarasi kemerdekaan oleh parlemen Kosovo tanggal 17 Februari 2008, Barat segera mengakui kemerdekaan itu. Saat itu, adalah Barat yang tidak ambil pusing dengan segala yang disampaikan Rusia.

Sebelumnya, Barat memang tidak pernah secara serius memperhitungkan suara (kemampuan) Rusia. Sejak keruntuhan Uni Soviet, kondisi ekonomi dan militer Rusia sangat kacau. Standing Rusia di kancah internasional pun turun drastis. Rusia hampir tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan strategis mengenai peristiwa penting di dunia.

Salah satu peristiwa yang sangat fundamental bagi Rusia saat itu adalah Perang Balkan. Runtuhnya negara Yugoslavia di awal 1990an menyebabkan terjadinya konflik antar republik bekas Yugoslavia, utamanya  Serbia, Bosnia, dan Kroasia. Faktor etnik adalah masalah utama dalam konflik-konflik tersebut.

Konflik yang terjadi di tengah benua Eropa tersebut pada akhirnya mendorong NATO untuk melakukan intervensi. Alasan yang dikemukakan adalah adanya pembunuhan masal dan pembersihan etnik. Meski angka-angka korban yang dijadikan dasar intervensi NATO tidak pernah terbukti, diakui bahwa intervensi NATO berhasil mencegah jatuhnya semakin banyak korban dan mengakhiri konflik.

Friedman menggarisbawahi faktor penting dari konflik di Balkan tersebut. Salah satunya adalah bahwa NATO telah memposisikan diri sebagai lembaga yang bisa membuat keputusan, di luar PBB, untuk melakukan intervensi militer di negara lain, yang bahkan bukan negara anggota NATO. Rusia mengecam keras keputusan NATO saat itu, tapi tidak mendapat tanggapan.

Hal lain yang sangat memprihatinkan Rusia adalah kenyataan bahwa NATO melakukan operasi militer di wilayah bekas satelit Rusia dengan bebas. Rusia tidak mampu merespon secara efektif tindakan NATO tersebut. Hal ini barangkali juga menjadi sebab kejatuhan Presiden Boris Yeltsin dan munculnya Vladimir Putin sebagai presiden yang kuat.

Kosovo menjadi pemicu. Rusia tampaknya merasa sudah cukup dilecehkan oleh Barat—sementara Barat tampaknya tidak menduga kembalinya kekuatan militer Rusia.

Bagi Rusia, sekaranglah saatnya untuk bertindak.

Perkembangan selanjutnya atas krisis di Georgia akan menentukan bentuk tatanan dunia yang baru, yang tercipta tanggal 8 Agustus 2008.

Agustus 18, 2008

Krisis Georgia: Media, Propaganda

“Kami [AS] masuk ke Somalia karena media, dan kami keluar karena media.”

Pernyataan di atas disampaikan oleh seorang pejabat pemerintahan AS mengenai intervensi militer AS di negeri Afrika itu.

Pada awal tahun 1990an, liputan CNN mengenai tragedi kemanusiaan di Somalia—kelaparan dan perang sipil—merasuki rumah-rumah keluarga di Amerika. Intensitas penyiaran berita yang begitu tinggi menarik perhatian para pembuat keputusan di sana. Akhirnya mereka memutuskan melakukan intervensi militer guna membantu mengakhiri tragedi kemanusiaan dimaksud.

Namun, melalui CNN pula rakyat dan politisi AS menyaksikan tragedi yang lain. Tubuh seorang tentara AS yang menjadi korban konflik diseret di jalanan kota Mozambique Mogadishu, ibukota Somalia. Akibat tayangan tersebut, tentara AS segera ditarik keluar tanpa membuat banyak perubahan.

Apa makna cerita di atas? Bahwa media memainkan peran penting dalam sebuah proses pembuatan keputusan, termasuk dalam hubungan antar negara. Media menyampaikan pesan dari satu pihak ke pihak lain. Pesan yang disampaikan secara terus-menerus akan membentuk sebuah opini tentang sebuah fakta yang multidimensi. Disengaja atau tidak, pesan yang disampaikan tidak selalu menyajikan seluruh dimensi yang terkait. Sementara itu, opini yang terbentuk berpotensi menjadi faktor pendorong lahirnya sebuah keputusan.

Mari kita tengok krisis yang berlangsung di Georgia. Di berbagai media barat, laporan yang disampaikan kepada publik lebih banyak menonjolkan faktor kemanusiaan dan legalitas aksi militer Rusia. Berita disertai foto dan gambar hidup tentang orang tua, wanita dan anak-anak serta gedung-gedung bukan target militer yang menjadi korban serangan Rusia disampaikan secara terus-menerus. Selain itu juga kata-kata ‘kedaulatan wilayah’, ‘agresi’, dan ‘aksi brutal’ sering dipakai untuk menggambarkan dan atau menganalisa situasi yang terjadi. Kata-kata dan gambaran tersebut ditujukan kepada Rusia. Maka tak sulit menerka bahwa opini yang terbangun kemudian adalah sosok Rusia yang mengerikan, membunuh orang tak berdosa, menghancurkan kehidupan masyarakat kebanyakan, serta melanggar hukum-hukum internasional.

Apakah gambaran itu salah? Bahwa aksi militer Rusia di Georgia telah menyebabkan jatuhnya korban sipil, hancurnya gedung perumahan dan sekolah, adalah fakta tak terbantahkan. Bahwa Rusia telah melanggar hukum internasional dengan mengirimkan tank dan pasukannya ke wilayah Georgia adalah juga fakta yang tak terbantahkan.

Persoalannya tidak segampang itu untuk memahami secara memadai peristiwa yang terjadi. Apalagi untuk membuat sebuah penilaian. Mengapa? Karena fakta di atas hanya merujuk sisi tertentu dari sebuah fenomena yang kompleks. Salah satu contoh sisi yang kurang mendapat perhatian adalah bahwa Georgia tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab munculnya krisis. Di manapun di muka bumi ini tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan seorang presiden yang membom rakyatnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Presiden Mikhail Saakashvili terhadap penduduk di Tskhinvali. Rusia bukanlah satu-satunya pihak dalam krisis di sana yang harus menerima hukuman.

Menarik untuk dicatat bahwa dalam perkembangannya, justru Saakashvili banyak mendapat simpati dari masyarakat internasional. Sebaliknya Rusia yang membalas tindakan Saakashvili mendapat banyak kecaman.

Tunggu dulu! Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membela siapapun. Ini sekedar mencatat sebuah fenomena pentingnya peran media dalam krisis di Georgia.

Mungkin sejak menyadari kekeliruannya menghitung skala balasan dari Rusia, sejak menyaksikan tentaranya dengan mudah dipukul mundur oleh tentara Rusia, Saakashvili banyak tampil di depan media. Tentu dengan penuh kesadaran ia tampil secara live hampir tiap hari di media Barat seperti CNN dan BBC yang memiliki jaringan mendunia. Dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar, Saakashvili memilih menggunakan kata-kata keras untuk menuduh, mengutuk, mengecam, aksi militer Rusia yang memasuki wilayah Georgia.

Dalam perjalanan waktu, tampak bahwa dengan propagandanya, Saakashvili mampu membangun simpati dunia. Ia menjadi newsmaker, meyakinkan khalayak dunia tentang bagaimana negaranya yang kecil menjadi sasaran keganasan raksasa Rusia. Ia menekankan perbandingan yang tidak seimbang antara kekuatan negaranya dengan Rusia. Untuk memperkuat argumentasinya, Saakashvili berusaha memberikan gambaran mengenai profil/karakteristik Rusia yang sesuai dengan tuduhannya. Tidak cukup menunjukkan foto dan gambar hidup tentang kehancuran yang menurutnya akibat serangan tentara Rusia, Saakashvili berusaha mengingatkan dunia tentang masa lalu Rusia (Uni Soviet) sebagai penjajah yang keji.

Dengan caranya itu, Saakashvili menutupi kesalahannya.

Propaganda Saakashvili memiliki dampak yang cukup kuat antara lain karena didukung penuh oleh para petinggi AS. Mulai dari Presiden George Bush, Menlu Condoleezza Rice, hingga Menhan Robert Gates, tak kalah garang dalam mengecam hingga mengancam Rusia setiap harinya.

Tanpa ada aksi penyeimbang yang memadai dari pihak Rusia, propaganda Saakashvili dan para pendukungnya di AS menjadi sangat efektif. Propaganda itu pada akhirnya di benak banyak orang menjadi seakan-akan sebuah kebenaran satu-satunya. Saat itulah simpati mengalir ke Saakashvili dan Georgia. Sebaliknya Rusia menuai kecaman dari banyak pihak.

Sesungguhnya Rusia bukannya tidak memberikan propaganda sama sekali. Presiden Dmitri Medvedev menuduh Georgia melakukan pembunuhan masal (genocide) dan pembersihan etnik (ethnic cleansing). Oleh karena itu, Sakaashvili harus dituntut sebagai penjahat perang di hadapan Pengadilan Penjahat Perang Internasional (International War Crime Tribunal).

Menlu Sergei Lavrov juga beberapa kali memberikan pernyataan, namun tidak ada tanggapan mengenai tuduhan atau kecaman yang ditujukan kepada Rusia. Apalagi serangan (verbal) balik.

Sikap Rusia yang nyantai ini mungkin disebabkan oleh (kembalinya) rasa percaya diri setelah keberhasilan aksi militernya di Georgia. Langkahnya di sana tidak mendapat perlawanan yang berarti. Para pendukung Georgia, yaitu AS, NATO, Eropa, tidak ada yang mengirimkan bantuan militer. Kecaman dan ancaman selama ini hanya sebatas kata-kata. Tidak ada yang berwujud tindakan nyata. Tidak ada tekanan yang dihadapi langsung oleh tentara Rusia di lapangan.

Pada dasarnya memang telah disepakati bahwa tujuan Rusia di Georgia telah tercapai. Rusia ingin menegaskan bahwa kawasan Kaukasus dan sekitarnya merupakan wilayah pengaruhnya (sphere of influence). Rusia juga ingin menunjukkan bahwa saat ini ia memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan utama dunia lain. Tak kalah pentingnya adalah pesan Rusia bahwa dukungan dan garansi keamanan AS dan NATO tidaklah berarti segala-galanya. Krisis di Georgia membuktikan para pendukung Georgia itu tidak mampu berbuat banyak untuk membantu.

Bagi Georgia, tentu akan sangat berarti jika AS dan NATO membantu Georgia sejak awal, setidaknya memberikan masukan penilaian mengenai situasi di lapangan serta kemungkinan reaksi balasan dari Rusia. Atau bahkan mengirimkan bantuan militer pada saat terjadinya konflik.

Tujuan yang lain tapi sifatnya kurang strategis dan hanya sekedar pesan kepada masyarakat internasional adalah menunjukkan sifat kemunafikan AS. Seruan AS kepada Rusia untuk menghormati kedaulatan negara lain, tidak turut campur dalam urusan dalam negeri negara lain, mengecam kebrutalan militer Rusia karena jatuhnya korban sipil, jelas bertentangan dengan yang dilakukan AS pada saat yang bersamaan.

Namun sekali lagi hal-hal yang ingin disampaikan Rusia tenggelam oleh propaganda Georgia dan AS yang membanjiri media.

Terjadinya ketidakseimbangan ini, atau barangkali bisa disebut sebagai kelemahan, atau bahkan kekalahan, propaganda Rusia, antara lain adalah karena sikap Rusia sendiri yang membatasi diri terhadap media, utamanya media Barat. Pemerintah Rusia memang memegang kontrol cukup kuat terhadap pemberitaan media nasionalnya. Namun langkah itu tidak memiliki arti sama sekali jika berhadapan dengan kebutuhan untuk mempengaruhi opini masyarakat internasional. Apalagi kebutuhan itu menghadapi persaingan yang sangat ketat dari media Barat.

Kita maklum media Barat memiliki kekuatan yang dahsyat. Banyak media nasional di negara-negara lain, termasuk di Indonesia, yang menggantungkan sumber pemberitaannya dari media Barat ini.

Rusia telah mengalahkan tentara Georgia secara telak di bumi Georgia. AS dan NATO tidak mampu membantu Georgia secara militer. Ini sebuah kenyataan sejarah. Yang terjadi selanjutnya adalah pembuatan keputusan-keputusan politik untuk menyesuaikan dengan kenyataan sejarah yang baru terwujud. Keputusan politik banyak dipengaruhi oleh berita-berita di media. Rusia bisa jadi harus membayar mahal kemenangan militernya tersebut dengan berbagai konsekuensi akibat kekalahan propagandanya.

Agustus 11, 2008

Georgia: Uji Kredibilitas Rusia

Hari Jumat lalu tanggal 8 Agustus 2008, sejumlah pemimpin dunia bersama-sama dengan ribuan orang di Beijing, dan bahkan di seantero dunia melalui televisi, menyaksikan pesta pembukaan Olimpiade Musim Panas 2008 yang spektakuler. Di hari yang sama malam sebelumnya, di Tbilisi Presiden Mikhail Saakashvili memerintahkan tentara Georgia mengambil alih kontrol atas Tskhinvali, ibukota propinsi Ossetia Selatan (OS) yang ingin melepaskan diri dari Georgia.

Tentara Georgia pun menembakkan roket dan artileri berat ke kota Tskhinvali. Saakasvhili beralasan bahwa aksi militernya terukur dan merupakan balasan terhadap serangan sporadis yang dilancarkan kelompok separatis OS. Kelompok separatis ini telah melakukan serangan ke wilayah-wilayah Georgia di sekitar OS, termasuk terhadap tentara Georgia yang bertugas di sekitar wilayah konflik. Beberapa bulan terakhir ini memang kekerasan di sana meningkat. Upaya mediasi Jerman tidak berhasil meredam peningkatan kekerasan tersebut.

Namun serangan tentara Georgia akhir minggu lalu itu menewaskan sejumlah tentara penjaga perdamaian asal Rusia di OS dan sejumlah lainnya terluka. Rusia pun membalas dengan aksi militer berskala penuh yang masih berlangsung hingga hari ini.

Beberapa hal yang menjadi catatan saya dari peristiwa di atas adalah sebagai berikut.

Pemilihan waktu operasi militer tampaknya dirancang sedemikian rupa bersamaan dengan upacara pembukaan Olimpiade Musim Panas 2008 di Beijing. Saat itu seluruh perhatian dunia tercurah ke sana. Namun apa sesungguhnya keuntungan dari pemilihan waktu tersebut? Mencuri perhatian dunia di sela semarak olimpiade? Alasan ini tentu sulit dipahami. Menyimak perkembangan yang terjadi, tampaknya masalah waktu itu hanya merupakan kebetulan. Kebetulan bersamaan dengan pesta olah raga dunia di Beijing.

Bahkan para analis dan komentator juga masih belum sepakat mengenai motivasi Saakashvili melancarkan serangan militer ke Tskhinvali. Dengan 127 penasehat militer AS berada di sekeliling Saakashvili, sulit untuk memahami ia tidak dapat memprediksi aksi balasan Rusia terhadap keputusannya menyerang Tskhinvali. Terlebih dengan bantuan kecanggihan militer AS, bahkan Saakashvili seharusnya juga dapat memonitor dengan presisi yang tinggi setiap pergerakan militer Rusia, termasuk intent Moskow terhadap Georgia.

Rusia juga telah memberikan pesan yang sangat jelas dan gamblang melalui latihan militer Caucasus 2008 yang merupakan tandingan dari latihan militer bersama yang diadakan oleh Georgia dan AS berkode Immediate Response bulan Juli 2008 lalu. (Posting saya tanggal 25 juli 2008 “Georgia: Pesan AS, Rusia”.)

Saat ini bisa dikatakan Rusia dalam situasi dipojokkan. Ia gerah dan geram. Segala protes dan keberatannya atas manuver-manuver militer yang dilakukan AS dan sekutu-sekutunya di Eropa tidak pernah digubris.

Rusia sangat marah atas pengakuan negara-negara Barat terhadap proklamasi kemerdekaan Kosovo. Presiden (waktu itu) Vladimir Putin menegaskan bahwa kasus Kosovo memberikan preseden bagi wilayah-wilayah lain yang ingin memerdekakan diri di kawasan bekas Uni Soviet. Yang dimaksud Putin adalah OS dan Abkhazia, dua propinsi di Georgia yang ingin melepaskan diri.

Selama ini Rusia telah memberikan bantuan ekonomi dan bahkan pasokan senjata serta perlengkapan militer lain kepada pemerintah de facto di kedua daerah tersebut. Rusia bahkan telah memberikan kewarganegaraan terhadap sebagian terbesar populasi di sana. Selanjutnya, Rusia akan semakin gencar memberikan bantuannya.

Sebelumnya, Rusia telah dibuat marah dengan tingginya antusiasme Saakashvili membawa Georgia ke dalam pelukan NATO dan Uni Eropa (UE). Saakashvili yang sangat pro-AS telah menjadikan Georgia sebagai sekutu terdekat AS paling timur di Eropa. Untuk menunjukkan loyalitasnya kepada AS tersebut, Georgia mengirimkan 2000 tentaranya ke Irak. Ini menjadikan Georgia sebagai negara dengan jumlah tentara terbanyak ke-3 di Irak setelah AS dan Inggris. Saat ini 2000 tentara Georgia yang bertugas di Irak ditarik pulang dengan bantuan AS untuk memperkuat barisan menghadapi gempuran Rusia.

Dengan aksi balasan Rusia berskala seperti itu, yang sepertinya di luar perkiraan, apakah ini berarti Saakashvili telah melakukan kesalahan perhitungan? Bisa jadi. Operasi militer Georgia mengambil alih kontrol Tskhinvali yang menewaskan 15 tentara penjaga perdamaian Rusia adalah tabuhan genderang perang di telinga para pemimpin Rusia. Rusia juga menuduh serangan itu telah menewaskan 2000 penduduk sipil yang kebanyakan berwarga negara Rusia. Maka Presiden Dmitri Medvedev pun menyatakan bahwa Rusia tidak akan membiarkan pihak yang bertanggung-jawab atas insiden itu berlalu tanpa mendapat hukuman.

PM Vladimir Putin segera meninggalkan Beijing menuju Vladkavkaz, kota di selatan Rusia dekat perbatasan dengan Georgia yang menjadi salah satu pijakan pergerakan militer Rusia ke Georgia. Meski langkah PM Putin ini memotong kewenangan Presiden Medvedev sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata Rusia, hal ini tetap saja menunjukkan keseriusan Rusia menghadapi masalah ini. Putin tegas menyatakan bahwa serangan Georgia terhadap tentara Rusia di OS menjadikan klaim Georgia atas OS tidak berlaku lagi. Menurutnya, sulit bagi Rusia menarik kembali tentaranya dari wilayah konflik tersebut.

Balasan yang decisive dari Rusia seolah pedang bermata dua. Bagi Georgia, ini dijadikan peluang untuk menarik simpati dunia atas kesewenang-wenangan negara besar (Rusia) atas negara kecil (Georgia). Saakashvili ‘memanfaatkan’ tragedi yang terjadi untuk menunjukkan bahwa Rusia sekarang tidak beda dengan Uni Soviet dulu yang suka sewenang-wenang mengirim tank ke negara tetangganya untuk menumpas gerakan perlawanan. Dengan kata lain, Rusia adalah ancaman keamanan yang sangat serius dan Georgia saat ini menjadi korbannya. Jika Georgia menjadi korban, maka negara lain akan bisa menjadi korban selanjutnya. Salah satu opsi penyelesaiannya adalah keanggotaan NATO secepat-cepatnya.

Dalam KTT NATO bulan April 2008 lalu di Bucharest, dua negara utama Eropa, Perancis dan Jerman, tidak ingin buru-buru menerima keanggotaan Georgia. Alasannya adalah karena mempertimbangkan keberatan Rusia. Sementara itu, salah satu syarat keanggotaan NATO adalah calon anggota tidak boleh menghadapi persoalan kewilayahan. Georgia harus menyelesaikan persoalan kemilayahannya itu, salah satunya adalah OS—yang lainnya adalah Abkhazia.

Tampaknya Saakashvili ingin agar Georgia dapat diterima menjadi anggota NATO dalam masa pemerintahan Presiden George W. Bush di AS. Jika dalam masa kepresidenan Bush ini tidak berhasil, Saakashvili tampaknya menilai aplikasi keanggotaan NATO untuk Georgia akan tertunda-tunda. Barangkali ia memperkirakan presiden baru AS nantinya akan menempatkan masalah keanggotaan Georgia di NATO bukan sebagai prioritas dalam agendanya.

Saakashvili juga bermaksud menginternasionalisasi persoalan separatisme yang dihadapinya berharap tekanan masyarakat internasional, khususnya dukungan negara-negara NATO dan UE terhadap aspirasinya, dapat menghentikan atau setidaknya mengendalikan campur tangan Rusia.

Namun agaknya harapan tersebut tidak akan terwujud. Setidaknya sampai tulisan ini saya publikasikan, yang terjadi justru Rusia memperluas serangannya ke wilayah-wilayah di luar wilayah OS. Front pertempuran telah meluas meliputi pula Abkhazia. Rusia bahkan diberitakan telah berhasil menduduki kota Gory yang terletak sedikit di luar wilayah konflik OS. Gory secara geografis bernilai strategis dan menjadi pijakan pasukan Georgia menghadapi konflik di OS.

Ke mana NATO dan AS? Seperti telah saya sebutkan di atas, Perancis dan Jerman tidak ingin bermusuhan dengan Rusia. Salah satu alasannya adalah masalah energi. Suka atau tidak, kenyataannya sampai saat ini Eropa masih sangat tergantung pada pasokan migas dari Rusia. Sementara itu, saat ini AS tidak memiliki kemampuan untuk berhadapan dengan Rusia di Georgia. Prioritas AS saat ini adalah Irak dan Afghanistan. Ketika keamanan di Irak sudah semakin membaik, tentara AS semakin banyak berguguran di medan perang Afghanistan.

Masih terkait dengan Irak, prioritas AS lainnya adalah Iran. Faktor Iran adalah penting bagi stabilitas di Irak. Tidak cukup dengan keamanan di Irak, AS juga harus menghadapi masalah nuklir Iran. Untuk menghadapi Iran, AS membutuhkan Rusia. Rusia memiliki kedekatan hubungan dengan Iran antara lain karena Rusia membantu pembangunan proyek nuklir di Iran. Pendek kata, AS telah memiliki ‘piring yang terisi penuh’ untuk disantapnya dan memerlukan kerjasama dengan Rusia untuk menyelesaikan (sebagian) prioritasnya.

Bagi Rusia, konflik di OS menjadi sebuah ujian atas kredibilitasnya. Mampukah Rusia menunjukkan bahwa ia pantas menjadi kekuatan tingkat global seperti yang diinginkannya? Satu aspek telah mendapat pengakuan. Dalam waktu beberapa jam setelah Tskhinvali dikuasai pasukan Georgia, Rusia mampu memobilisir pasukannya dari berbagai unit untuk menerobos masuk perbatasan dan selanjutnya memukul mundur tentara Georgia dari ibukota OS tersebut. Itu berarti rantai komando berjalan mulus dan logistik peralatan serta kendaraan tempur siap operasi. Termasuk dalam hal ini adalah kesiapan pesawat-pesawat tempurnya. Kenyataan ini telah mengubur keraguan beberapa pihak mengenai kondisi unit-unit dan mesin-mesin tempur Rusia di tengah keterbatasan anggarannya.

Rusia juga masih harus membuktikan sejauh mana mampu menghadapi tekanan internasional vis a vis rencananya dalam operasinya di Georgia ini. Sejauh mana tentara Rusia akan bergerak? Apa yang ingin dicapainya? Saat ini semua negara di kawasan ini, utamanya negara-negara bekas Uni Soviet, memperhatikan dengan seksama dan dengan rasa cemas aksi militer Rusia di Georgia. Akankah sejarah berulang ketika negara-negara tersebut diduduki dan dijadikan satelit untuk semata-mata melayani kepentingan Moskow?

Rusia harus membuktikan kredibilitasnya: sejauh mana ia bisa menjadi kekuatan global yang predictable dan bertanggung jawab.