Hari Senin kemarin tanggal 25 Agustus 2008, Majelis Tinggi (Dewan Federasi) dan Majelis Rendah (Duma) Parlemen Rusia secara aklamasi mengakui kemerdekaan dua propinsi di Georgia yang ingin melepaskan diri, Republik Ossetia Selatan (OS) dan Abkhazia.
Sehari kemudian, Presiden Dmitri Medvedev mengumumkan telah menandatangani pengakuan resmi Rusia atas kemerdekaan dua wilayah tersebut. Medvedev kemudian mengundang wartawan raksasa media Barat, termasuk CNN dan BBC, ke area peristirahatan kepresidenan di kota Sochi untuk wawancara. Tampaknya Rusia ingin memperbaiki aspect public relations yang selama ini diakui kalah jauh dari yang dilakukan Georgia. Aspek PR ini sangat penting untuk menyampaikan pesan yang dikehendaki serta mempengaruhi opini publik agar menguntungkan pihak yang memberi pesan. (Posting saya tanggal 18 Agustus 2008, “Krisis Georgia: Media, Propaganda”.) Moskow selama ini dibantu oleh perusahaan PR Belgia Gplus, sedangkan Tbilisi dibantu oleh perusahaan AS Aspect Consulting.
Bagi kebanyakan rakyat OS, pengakuan kemerdekaan oleh Rusia sangat dinantikan. Sudah 2 kali referendum diadakan, yaitu tahun 1992 dan 2006, yang menunjukkan keinginan rakyat OS untuk merdeka. Rusia mendukung hasil-hasil referendum tersebut namun tidak pernah memberikan pengakuan resmi.
Kemerdekaan bagi mereka berarti ‘bebas dari Georgia’. Rakyat OS yang secara etnik berbeda dengan Georgia merasa selama ini selalu dilecehkan. Bahkan kebanyakan mereka memimpikan dapat bersatu dengan Ossetia Utara yang berada di seberang perbatasan, bagian dari Rusia. Kenangan mereka sebagai sebuah bangsa yang makmur dalam bingkai Kerajaan Alania tak jarang hadir di benak mereka.
Pengakuan yang diberikan Rusia sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Mengapa? Tentu karena para petinggi Rusia telah berjanji akan memberikannya. Terakhir, Menlu Sergei Lavrov secara tegas mengatakan bahwa saat ini tidak mungkin lagi membicarakan OS dan Abkhazia sebagai bagian dari negara Georgia. Artinya, saat itu Rusia telah memutuskan nasib kedua wilayah tersebut. Posisi Rusia di meja perundingan juga telah jelas, Rusia akan menolak segala dokumen menyangkut krisis di Georgia jika masih memberi rujukan kepada ‘keutuhan wilayah Georgia’.
Pengakuan Rusia tersebut dikutuk oleh Eropa dan AS. Sejauh ini baru Belarus yang juga telah mengakui kemerdekaan OS dan Abkhazia.
Sejumlah hal menarik untuk dicatat. Dengan pengakuan tersebut tampaknya Rusia telah lama siap dengan berbagai skenario di atas meja. Pengakuan terhadap OS dan Abkhazia itu sendiri merupakan konsekuensi logis dari invasi militer Rusia ke Georgia tanggal 8 Agustus 2008 lalu. Akan sulit dipahami jika Rusia kemudian tidak menindaklanjuti invasi tersebut dengan memberikan pengakuan kemerdekaan terhadap dua wilayah tersebut. Tanpa memberikan pengakuan, Rusia akan memberikan sinyal yang membingungkan mengenai motivasinya. Rusia akan dianggap tidak serius, main-main, dan akhirnya kehilangan kredibilitas. Kredibilitas di mata negara-negara yang di mata Rusia merupakan sphere of influence-nya, yaitu negara-negara Eropa Timur, Baltik dan Asia Tengah. Rusia juga akan kehilangan kredibilitas di mata rivalnya, yaitu Eropa dan AS yang saat ini sedang giat-gitanya melebarkan sayap pengaruhnya persis di wilayah yang diingini Rusia.
Perkembangan di Georgia 3 minggu terakhir ini menunjukkan kesiapan dan keteguhan Rusia melakukan apapun yang diperlukan untuk mengamankan kepentingan strategisnya, terutama di kawasan yang sangat dekat dengan posisinya. Rusia tegas mengatakan ia memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Kemampuan itu sudah dibuktikan.
Penting pula dicatat bahwa Rusia saat ini sangat kukuh melawan segala pendapat Barat. Rusia seperti tidak ambil pusing dengan segala macam kecaman dan ancaman Barat—yang memang sejauh ini masih bersifat retorika, tidak ada aksi di lapangan.
Ini memunculkan pertanyaan: apa sesungguhnya yang sedang terjadi?
George Friedman memberikan sudut pandang yang menarik untuk memahami situasi ini. Menurutnya, konflik di Georgia sama sekali bukan masalah OS, atau Abkhazia, atau bahkan tentang Georgia. Ini adalah konflik antara Rusia dan Barat. Konflik di Georgia bukan tergolong konflik besar namun telah melahirkan tata dunia baru.
Pemicu keputusan-keputusan yang dibuat oleh Rusia adalah deklarasi kemerdekaan Kosovo. Segera setelah deklarasi kemerdekaan oleh parlemen Kosovo tanggal 17 Februari 2008, Barat segera mengakui kemerdekaan itu. Saat itu, adalah Barat yang tidak ambil pusing dengan segala yang disampaikan Rusia.
Sebelumnya, Barat memang tidak pernah secara serius memperhitungkan suara (kemampuan) Rusia. Sejak keruntuhan Uni Soviet, kondisi ekonomi dan militer Rusia sangat kacau. Standing Rusia di kancah internasional pun turun drastis. Rusia hampir tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan strategis mengenai peristiwa penting di dunia.
Salah satu peristiwa yang sangat fundamental bagi Rusia saat itu adalah Perang Balkan. Runtuhnya negara Yugoslavia di awal 1990an menyebabkan terjadinya konflik antar republik bekas Yugoslavia, utamanya Serbia, Bosnia, dan Kroasia. Faktor etnik adalah masalah utama dalam konflik-konflik tersebut.
Konflik yang terjadi di tengah benua Eropa tersebut pada akhirnya mendorong NATO untuk melakukan intervensi. Alasan yang dikemukakan adalah adanya pembunuhan masal dan pembersihan etnik. Meski angka-angka korban yang dijadikan dasar intervensi NATO tidak pernah terbukti, diakui bahwa intervensi NATO berhasil mencegah jatuhnya semakin banyak korban dan mengakhiri konflik.
Friedman menggarisbawahi faktor penting dari konflik di Balkan tersebut. Salah satunya adalah bahwa NATO telah memposisikan diri sebagai lembaga yang bisa membuat keputusan, di luar PBB, untuk melakukan intervensi militer di negara lain, yang bahkan bukan negara anggota NATO. Rusia mengecam keras keputusan NATO saat itu, tapi tidak mendapat tanggapan.
Hal lain yang sangat memprihatinkan Rusia adalah kenyataan bahwa NATO melakukan operasi militer di wilayah bekas satelit Rusia dengan bebas. Rusia tidak mampu merespon secara efektif tindakan NATO tersebut. Hal ini barangkali juga menjadi sebab kejatuhan Presiden Boris Yeltsin dan munculnya Vladimir Putin sebagai presiden yang kuat.
Kosovo menjadi pemicu. Rusia tampaknya merasa sudah cukup dilecehkan oleh Barat—sementara Barat tampaknya tidak menduga kembalinya kekuatan militer Rusia.
Bagi Rusia, sekaranglah saatnya untuk bertindak.
Perkembangan selanjutnya atas krisis di Georgia akan menentukan bentuk tatanan dunia yang baru, yang tercipta tanggal 8 Agustus 2008.